HOME VARIOUS
Share
Keraton di Indonesia yang Bisa Dikunjungi, dari Jogja, Baubau hingga Ternate

WISATA LIBURAN - Ada yang mengatakan, cara paling tulus untuk memahami peradaban suatu bangsa adalah dengan mengunjungi bekas istana-istana yang menjadi kebanggaannya. Wisata keraton Indonesia bukan hanya sekadar melihat batu-batu kuno dan ukiran kayu yang rumit. Lebih dari itu, menjelajahi lorong-lorong keraton di Indonesia adalah tentang merasakan langsung denyut kehidupan masa lalu yang pernah berdenyut kencang di sana. 

Dari gemuruh perdagangan rempah yang menghidupkan pelabuhan, persaingan kekuasaan antar kerajaan yang sengit, hingga proses sinkretisme budaya yang melahirkan seni dan tradisi unik, serta doa-doa panjang para leluhur yang seolah masih menggantung di langit-langit tinggi pendhapa yang sejuk. Wisata keraton Indonesia mengajak kita untuk tidak hanya melihat, tetapi juga menyelami dan menghayati.

Sebelum Indonesia menjadi republik yang bersatu, ratusan kerajaan pernah berdiri megah di tanah air ini. Keraton di Indonesia sangat beragam, mulai dari yang hanya tersisa namanya dalam catatan sejarah, hingga yang masih berdiri kokoh dan terawat dengan baik.Berikut adalah daftar keraton di Indonesia yang masih bisa dikunjungi, masing-masing dengan cerita yang tidak akan habis hanya dalam satu kunjungan. 

1. Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat - Yogyakarta
Ini adalah yang paling terkenal, dan ketenaran itu sangat beralasan. Terletak di jantung Kota Yogyakarta, keraton ini mencerminkan konsep tata ruang kerajaan Jawa yang menjadikan keraton sebagai pusat kosmologi, dari Tugu Jogja di utara hingga Panggung Krapyak di selatan, membentuk sumbu imajiner yang melambangkan perjalanan hidup manusia dari lahir hingga kembali kepada Sang Pencipta. Arsitekturnya memadukan gaya Jawa, Eropa, dan Cina. Yang membuat keraton ini berbeda dari museum biasa adalah kenyataan bahwa Sultan masih tinggal di sini dan keluarga kerajaan masih aktif menjalankan ritual adat.

2. Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat - Solo, Jawa Tengah
Keraton Solo menjadi saksi bisu Perjanjian Giyanti tahun 1755 yang membagi Mataram Islam menjadi dua kerajaan, Yogyakarta dan Surakarta. Arsitekturnya adalah perpaduan antara gaya Jawa dan Eropa dengan nuansa warna biru dan putih, terdiri dari beberapa kompleks yang dipisahkan oleh dinding pertahanan bernama Baluwarti yang membentang sepanjang 700 meter dan lebar 500 meter. Di dalamnya tersimpan gamelan, wayang, dan berbagai benda pusaka.

3. Pura Mangkunegaran - Solo, Jawa Tengah  
Kota ini memiliki akar sejarah yang sama dengan Kasunanan, namun memiliki pesona tersendiri. Mangkunegaran berstatus sebagai kadipaten, bukan kerajaan penuh, namun koleksi seninya sering dianggap lebih terawat dan lebih mudah diakses oleh pengunjung. Pendhapa yang luas, dengan gamelan Kyai Kanyut Mesem di salah satu sudutnya, merupakan salah satu ruang budaya paling mengesankan di Jawa Tengah. Tempat ini buka setiap hari, dan kamu sering dapat menyaksikan latihan tari gratis langsung dari depan pendhapa.

4. Keraton Kasepuhan - Cirebon, Jawa Barat  
Keraton Kasepuhan bermula dari Keraton Pakungwati, yang didirikan oleh Pangeran Cakrabuana, putra Raja Pajajaran, pada tahun 1452. Kesultanan Cirebon terpecah pada tahun 1969 menjadi Kasepuhan dan Kanoman, dengan Kasepuhan dipimpin oleh Pangeran Martawijaya, yang memegang gelar Sultan Sepuh. Yang membuat tempat ini istimewa adalah para pemandu wisata mengenakan pakaian tradisional, serta mereka menyelenggarakan lokakarya batik dan sesi melukis topeng Cirebon setiap akhir pekan. Cirebon secara unik memiliki tiga istana yang menjadi destinasi wisata populer, yaitu Kasepuhan, Kanoman, dan Kacirebonan.

5. Keraton Kanoman - Cirebon, Jawa Barat  
Keraton ini merupakan mitra bersejarah Keraton Kasepuhan dalam kisah pemisahan Cirebon. Tidak ada biaya masuk untuk menjelajahi sejarah di Keraton Kanoman, namun disarankan untuk menyewa pemandu wisata agar dapat sepenuhnya menghargai kekayaan sejarah di sini. Koleksinya mencakup kereta kerajaan dan pusaka yang tak kalah menariknya dengan yang ada di Kasepuhan. Karena lokasinya berdekatan, pengunjung dapat dengan mudah menjelajahi kedua istana tersebut dalam satu hari.

6. Keraton Sumenep - Sumenep, Madura, Jawa Timur  
Ini adalah satu-satunya keraton yang masih berdiri di Provinsi Jawa Timur, dan sayangnya, sering kali terlewatkan oleh wisatawan yang lebih tertarik pada Bromo atau Kawah Ijen. Keraton Sumenep dibangun pada tahun 1762 di bawah pemerintahan Panembahan Sumolo I, dengan arsitek keturunan Tionghoa bernama Louw Phia Ngo yang berhasil memadukan gaya arsitektur Islam, Eropa, Cina, dan Jawa dalam satu bangunan yang menakjubkan. Di dalamnya, kamu bisa menemukan koleksi kursi kuno, tempat tidur kesultanan, dan kereta kencana yang dihiasi ukiran khas Madura, yang masih sesekali digunakan dalam upacara pemerintahan daerah.

7. Benteng Keraton Wolio (Keraton Buton) - Baubau, Sulawesi Tenggara  
Jika ada satu keraton di luar Jawa yang harus ada dalam daftar kunjungan, inilah tempatnya. Benteng Keraton Kesultanan Buton mencakup area seluas 23,375 hektare dengan keliling 2.740 meter, dan pada tahun 2006, tempat ini mendapatkan rekor dari MURI serta Guinness Book of World Records sebagai bangunan pertahanan terluas di dunia. 

Dibangun pada abad ke-16 oleh Sultan Buton III, La Sangaji, benteng ini terbuat dari batu kapur dan dilengkapi dengan meriam peninggalan Portugis dan Belanda, 12 pintu gerbang yang disebut lawa, dan 16 emplasemen meriam yang dikenal sebagai baluara. Di dalam benteng, kamu akan menemukan Masjid Agung Keraton Buton, Batu Popaua yang digunakan untuk pelantikan sultan, tiang bendera yang sudah berusia ratusan tahun, dan Istana Kamali Kara yang seluruhnya terbuat dari kayu setinggi empat lantai tanpa menggunakan satu pun paku.

8.Kedaton Kesultanan Ternate - Ternate, Maluku Utara
Sebelum rempah menjadi istilah yang populer di dunia kuliner, Ternate sudah mengubah peta dunia berkat cengkih dan pala yang melimpah. Kedaton Sultan Ternate, yang dibangun pada 24 November 1813 oleh Sultan Muhammad Ali, dirancang oleh seorang arsitek asal Tiongkok dengan bentuk segi delapan yang menggambarkan seekor singa duduk, menghadap ke laut dengan latar belakang Gunung Gamalama yang masih aktif. 

Salah satu koleksi paling terkenal di sini adalah mahkota sultan yang dihiasi dengan bulu burung cendrawasih. Tradisi seperti Kololi Kie, sebuah upacara penghormatan kepada gunung sebagai simbol spiritual, masih dipertahankan dan menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan. Lokasinya sekitar 2–3 km dari Pelabuhan Ahmad Yani, sehingga mudah dijangkau dari pusat kota.


Mengunjungi keraton bukan hanya sekadar berfoto di depan gerbang batu. Banyak keraton di Indonesia yang masih berfungsi sebagai pusat adat yang aktif, ada pantangan tertentu, pakaian yang sebaiknya dikenakan, dan ritual yang mungkin sedang berlangsung saat kita berkunjung. Hormati semua itu, dan keraton-keraton ini akan memberikan pengalaman yang tak akan kamu temukan di tempat lain, sebuah rasa bahwa Indonesia jauh lebih tua, lebih kaya, dan lebih berlapis daripada yang terlihat di permukaan.(*)

Photo by Fala Syam on Unsplash