

WISATA LIBURAN - Tahun Baru Imlek selalu menyimpan satu momen yang tak tergantikan, saat semua orang, di mana pun mereka berada, memilih untuk pulang. Di Tiongkok sendiri, fenomena ini dikenal sebagai Chunyun, arus mudik tahunan terbesar di dunia. Bayangkan, dalam waktu 40 hari, lebih dari 2 miliar perjalanan tercatat hanya untuk satu tujuan, berkumpul bersama keluarga di meja makan malam pergantian tahun.
Malam itu, setiap suapan ikan utuh bukan hanya soal rasa, tetapi juga simbol harapan akan kelimpahan. Pangsit jiaozi yang menggoda bukan sekadar karbohidrat, melainkan doa agar rezeki mengalir sebanyak emas batangan. Inilah inti dari hari besar yang dirayakan masyarakat keturunan Tionghoa, termasuk tradisi Imlek di Indonesia, perayaan yang selalu dipenuhi kehangatan rumah dan doa yang dipanjatkan dalam hening di antara derap langkah keluarga.
Di ruang yang lebih ramai, tradisi Imlek di Indonesia juga di beberapa belahan dunia lain, menjadi lebih berwarna dan meriah. Barongsai meliuk di antara deru nafas penonton yang memadati mal-mal hingga ke lorong-lorong kelenteng. Meskipun petasan mulai berkurang di beberapa kota, semangatnya tetap berkobar. Amplop merah, atau angpao, tetap menjadi bintang. Warna merahnya dipercaya sebagai pelindung, sementara isinya adalah restu.
Menariknya, di era digital ini, amplop merah tak hanya ada di genggaman tangan, tetapi juga melayang lewat layar ponsel. Tradisi Imlek di Indonesia saat ini adalah gambaran bagaimana budaya bisa beradaptasi, menyesuaikan diri tanpa kehilangan makna.
Sejak resmi menjadi hari libur nasional, Tahun Baru Imlek lebih dari sekadar tanggal merah, perayaan ini telah menjadi denyut ekonomi dan pariwisata yang nyata. Lihat saja Singkawang saat Cap Go Meh. Pawang tatung berjalan di tengah kerumunan, menusukkan benda tajam tanpa luka, dan ribuan pasang mata dari berbagai daerah menyaksikan dengan decak kagum.
Hotel penuh, kuliner laris, UMKM kebanjiran pesanan. Di kelenteng, aroma hio membumbung tinggi. Buah dan makanan tersusun rapi di altar, dipersembahkan untuk leluhur, diiringi doa agar tahun yang baru membawa kesehatan dan rezeki. Di rumah-rumah, huruf "fu" ditempel terbalik di pintu, sebuah kode halus bahwa keberuntungan sudah tumpah ruah.(*)
Photo by Scribbling Geek on Unsplash