

WISATA LIBURAN - Di tengah maraknya camilan kekinian yang menggunakan bahan impor, pisang gapit justru tetap bertahan dengan kesederhanaan dan kejujuran rasanya. Jajanan tradisional ini, yang banyak kita temui di daerah seperti Jawa dan Bali, adalah bukti nyata bagaimana kreativitas lokal bisa mengolah sumber daya yang ada.
Proses pembuatannya dimulai dari pisang matang, biasanya jenis pisang raja atau kepok, yang diiris tipis lalu digoreng hingga renyah atau dipanggang sampai teksturnya agak kering. Lalu irisan pisang yang masih hangat itu dipadukan dengan kuah kental yang legit. Kuah inilah yang menjadi jiwa dari pisang gapit, mengubah potongan pisang goreng biasa menjadi sebuah pengalaman rasa yang manis, gurih, dan hangat sekaligus.
Membuat pisang gapit memang tidak sulit, tetapi memerlukan ketelitian, terutama saat membuat kuahnya. Berdasarkan catatan dari berbagai sumber kuliner tradisional, kuah legendaris ini umumnya terbuat dari gula merah atau gula aren yang dilelehkan, dicampur dengan santan kelapa asli, dan sedikit garam untuk menyeimbangkan rasa.
Campuran ini kemudian dimasak dengan api kecil sambil terus diaduk hingga benar-benar mengental dan aromanya memenuhi dapur. Proses ini sangat penting, kekentalan yang tepat akan membuat kuah menempel sempurna di setiap lekuk pisang, bukan sekadar menetes. Saat irisan pisang yang renyah dicelupkan, terjadilah perpaduan sempurna, kerenyahan pisang bertemu dengan kelunakan kuah yang meresap.(*)