HOME STORY
Share
Trenggiling dan Perannya bagi Ekosistem Hutan yang Semakin Terancam

WISATA LIBURAN - Di balik keheningan hutan tropis Sumatra, Kalimantan, dan Jawa, trenggiling Sunda (Manis javanica) melintasi malam sebagai makhluk nokturnal yang lebih suka menyendiri. Mamalia bersisik keratin ini dapat ditemukan di seluruh Asia Tenggara, mulai dari Myanmar hingga Borneo, dan di Indonesia, ia juga dikenal dengan nama trenggiling peusing. Trenggiling termasuk dalam kelompok mamalia purba, karena garis keturunannya (ordo Pholidota) dapat ditelusuri hingga sekitar 45 juta tahun yang lalu melalui fosil dari zaman Eosen.

Satwa ini diperkirakan berperan dalam mengatur populasi semut dan rayap di hutan. Dengan lidah lengket yang panjangnya antara 25 hingga 40 sentimeter, seekor trenggiling dewasa bisa menghabiskan sekitar 200.000 semut atau rayap setiap hari, yang berarti lebih dari 70 juta serangga dalam setahun. Para pegiat konservasi menilai peran ini sangat penting untuk menjaga keseimbangan ekosistem, meskipun dampak pasti dari hilangnya trenggiling terhadap populasi serangga masih memerlukan penelitian lebih lanjut.

Sayangnya, satwa ini kini berada di ambang kepunahan. Diperkirakan populasi trenggiling Sunda telah menurun sekitar 80 persen antara tahun 1998 dan 2019. IUCN telah mengklasifikasikannya sebagai Critically Endangered (Kritis), dan sejak 2016, semua delapan spesies trenggiling telah dimasukkan dalam Lampiran I CITES yang melarang perdagangan komersial internasional untuk spesimen liar maupun bagian tubuhnya. 

Spesies ini juga dilindungi oleh hukum Indonesia. Tekanan utama yang dihadapi adalah perburuan dan perdagangan gelap untuk sisik yang digunakan dalam pengobatan tradisional serta untuk dagingnya. Tanpa penegakan hukum yang tegas serta pemulihan habitat yang terfragmentasi, kelompok mamalia purba ini berisiko lenyap dari keanekaragaman hayati Nusantara.**

The following video is courtesy of TRANS TV