

WISATA LIBURAN - Perjalanan untuk mengenal Suku Wana Morowali membawa kita ke bentang alam yang sangat berbeda dari citra Morowali yang biasanya kita lihat, yang lebih sering terfokus pada pesisir dan kawasan industri. Di pedalaman Morowali Utara, Pegunungan Tokala dan Cagar Alam Morowali menjadi rumah bagi masyarakat yang dalam banyak literatur disebut Tau Taa Wana atau To Wana, sebutan yang merujuk pada orang Wana yang tinggal dekat hutan, sementara mereka sendiri juga menyebut diri mereka Tau Taa.
Untuk mencapai permukiman Suku Wana Morowali, perjalanan tidak bisa hanya mengandalkan kendaraan, kita harus berjalan kaki melalui medan berbukit dan jalur hutan, yang menjadi bagian dari pengalaman yang menguji fisik sekaligus membuka wawasan. Cagar Alam Morowali sendiri membentang sekitar 209.400 hektare di wilayah Morowali Utara dan Tojo Una-Una, dan kawasan ini telah lama menjadi ruang hidup masyarakat tradisional Wana, sebuah fakta yang menunjukkan bahwa keberadaan mereka telah diakui secara resmi oleh pemerintah melalui BKSDA.
Semakin dalam menjelajahi wilayah Suku Wana Morowali, semakin jelas bahwa hutan bagi mereka bukan hanya sekadar tempat tinggal atau sumber penghidupan, melainkan bagian yang tak terpisahkan dari identitas dan spiritualitas mereka. Pengetahuan tentang alam, ladang, sungai, serta aturan adat diwariskan dalam kehidupan sehari-hari, merupakan sistem pendidikan tradisional yang berlangsung tanpa ruang kelas, namun sangat efektif dalam menjaga kelestarian lingkungan selama berabad-abad. Dalam kisah asal-usul mereka, Tundantana diyakini sebagai tempat pertama manusia menginjakkan kaki di bumi.
Penelitian tentang Suku Wana Morowali juga menunjukkan adanya pembagian kawasan berdasarkan kebutuhan dan kepentingan bersama, serta praktik pengelolaan alam yang berakar dari pengetahuan lokal, bentuk kearifan local yang seharusnya dipelajari oleh masyarakat modern. Di tengah perjalanan, akhirnya dapat memahami bahwa mencari Suku Wana Morowali bukan sekadar mencari sebuah kelompok masyarakat yang disebut-sebut telah berusia sangat tua, melainkan berusaha melihat bagaimana sebuah kebudayaan mempertahankan hubungan dengan hutan dari generasi ke generasi, dan menjadi pelajaran hidup tentang harmoni antara manusia dan alam yang semakin langka di era modern.(*)