

WISATA LIBURAN - Di dataran tinggi Sumatera Barat, tepatnya di Puncak Lawang, Nagari Lawang, Kecamatan Matur, Kabupaten Agam, hamparan kebun tebu yang subur telah menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat setempat selama bertahun-tahun. Udara sejuk yang khas di ketinggian ini sangat ideal untuk pertumbuhan tebu berkualitas. Lingkungan yang mendukung ini menjadikan Nagari Lawang sebagai pusat produksi tebu yang terkenal di Sumatera Barat.
Yang membuat proses pengolahan tebu di Nagari Lawang begitu unik dan kaya akan kearifan lokal adalah penggunaan kerbau penggiling tebu yang masih dipertahankan hingga saat ini. Di tengah kemajuan teknologi mesin modern, para petani dan pengrajin gula di sini tetap setia menggunakan tenaga kerbau penggiling tebu untuk memeras batang tebu menjadi nira. Hewan ternak yang kuat dan sabar ini dipandu untuk berjalan melingkar mengelilingi alat penggiling tradisional yang terbuat dari kayu atau besi, menghasilkan sari tebu yang murni dan alami.
Dari hasil perasan kerbau penggiling tebu inilah lahir berbagai produk olahan tebu unggulan yang telah dikenal hingga ke mancanegara. Masyarakat Nagari Lawang mengolah nira tebu menjadi gula semut original, gula semut jahe, kopi gutela (gula tebu lawang), kopi jahe (koje) gutela, hingga molase (cairan tebu) jahe yang kaya rasa. Keistimewaan produk-produk ini tidak hanya terletak pada cita rasa alami yang khas, tetapi juga pada nilai sejarah dan budaya yang terkandung di dalam setiap kemasannya.
Penggunaan kerbau penggiling tebu menjadi simbol ketekunan, kesederhanaan, dan kearifan lokal yang dijaga dengan penuh kebanggaan oleh masyarakat Nagari Lawang. Dengan tetap mempertahankan metode tradisional ini, mereka tidak hanya menghasilkan produk berkualitas tinggi, tetapi juga melestarikan warisan leluhur yang menjadi identitas dan kebanggaan daerah.(*)