

WISATA LIBURAN - Di tengah pesona tradisi lompat batu yang terkenal, Desa Bawömataluo di Sumatra Utara menyimpan harta karun etnomusikologi yang luar biasa, yaitu Feta Batu Nias Selatan. Instrumen ini adalah hasil karya cemerlang dari budaya megalitik, di mana batu-batu alam kuno diubah menjadi alat musik dengan nada diatonis yang tepat melalui teknik pemukulan berulang yang dikenal sebagai fafeta-feta.
Revitalisasi warisan ini dipimpin oleh maestro almarhum Hikayat Manao, yang pada awal milenium kedua berhasil mengkurasi batu-batu alam berdasarkan resonansi akustiknya. Dedikasi beliau dalam menghidupkan jiwa dari setiap kepingan batu hingga membentuk harmoni do-re-mi menunjukkan bahwa Feta Batu Nias Selatan bukan sekadar alat perkusi biasa, melainkan jembatan yang menghubungkan material bumi dengan kedalaman estetika musik leluhur.
Keunikan Feta Batu Nias Selatan kini terus dilestarikan sebagai atraksi budaya yang kaya akan nilai filosofis dan doa. Setiap komposisi yang dimainkan, seperti melodi nenu-nenu dan fahasara dodo, menyampaikan pesan sakral tentang pengabdian kepada Sang Pencipta serta pentingnya kohesi sosial dalam semangat gotong royong.
Reputasi instrumen ini bahkan telah menembus panggung nasional melalui kolaborasi dengan musisi legendaris seperti Iwan Fals, yang semakin mengukuhkan posisinya sebagai Warisan Budaya Tak Benda yang diakui oleh negara. Sebagai satu-satunya ansambel musik berbahan batu yang masih aktif dan autentik di Indonesia, Feta Batu berdiri kokoh sebagai identitas kebanggaan masyarakat Nias.(*)