

WISATA LIBURAN - Jika biasanya Tari Piring dikenal dengan atraksi memutar piring di telapak tangan, Tari Piriang Suluah menawarkan cerita yang jauh lebih mendalam. Tarian yang berasal dari Padang Panjang, Sumatera Barat ini lahir dari kegelisahan para seniman yang ingin menggambarkan kesibukan sehari-hari masyarakat agraris di ranah Minang.
Tarian ini merupakan pengembangan dari tari piring klasik dengan tema khusus, yaitu aktivitas para petani saat mengolah lahan hingga mereka kembali ke surau di malam hari, ditemani cahaya suluh (obor tradisional dari minyak tanah). Jadi, berbeda dari tari piring yang biasa, Piriang Suluah tidak hanya mengandalkan kecepatan dan ketangkasan tangan, tetapi juga menceritakan kisah tentang meniti pematang sawah, menebang alang-alang, mengusir hama burung, hingga mengikat kerbau, semuanya dibalut dengan gerakan dinamis pencak silat atau silek Minangkabau.
Sumber estetika tertinggi dalam tarian ini bukan hanya kemampuan penari menjaga keseimbangan piring di kedua telapak tangan sambil meletakkan suluh di atas kepala. Yang paling dinanti adalah saat para penari harus berjalan dan melompat dengan lincah di atas deretan piring yang sengaja dipecahkan, tanpa melukai kaki mereka. Ini bukan sekadar atraksi hiburan, melainkan simbol ketangguhan dan kegigihan petani dalam menghadapi kerasnya kehidupan.
Pengakuan atas nilai budaya yang luhur ini membuat Piriang Suluah diabadikan oleh pemerintah Indonesia sebagai salah satu ikon dalam prangko seri Tari Nusantara pada tahun 2021. Dari ritual syukur pra-Islam, bertransformasi menjadi tarian rakyat, hingga kini menjadi identitas daerah yang mendunia, Tari Piriang Suluah adalah bukti bahwa kearifan lokal Minangkabau terus hidup dan memukau lintas generasi.(*)