

WISATA LIBURAN - Membahas struktur sosial di tanah Buton rasanya takkan pernah lengkap tanpa menyentuh keberadaan masyarakat Sempa-Sempa Pulau Buton. Kelompok komunitas ini memiliki posisi yang unik dalam stratifikasi Kesultanan Buton. Berbeda dengan kaum bangsawan atau rakyat biasa, masyarakat Sempa-Sempa Pulau Buton sering dianggap sebagai benteng kultural yang setia menjaga tradisi lisan dan berbagai ritus tertentu, baik di pesisir maupun di pedalaman.
Keunikan mereka terletak pada keteguhan dalam memelihara memori kolektif leluhur yang terjalin erat dengan alam. Pola pemukiman mereka biasanya mengikuti jejak sejarah perpindahan yang dipicu oleh mandat adat di masa lalu. Dalam kehidupan sehari-hari, mereka dikenal memiliki solidaritas internal yang sangat kuat. Setiap keputusan yang diambil pun tidak sembarangan, harus melalui restu para tetua adat lewat mekanisme musyawarah yang oleh banyak pengamat dianggap sebagai bentuk demokrasi akar rumput paling murni yang pernah ada di jazirah tenggara Sulawesi.
Secara kultural, masyarakat Sempa-Sempa Pulau Buton memiliki kekayaan tradisi yang masih bisa kita nikmati hingga kini, seperti dalam upacara peralihan hidup atau ritual tolak bala yang penuh dengan simbolisme magis-religius. Data lapangan menunjukkan bahwa mereka sangat menjunjung tinggi konsep pobini-binisara, sebuah nilai luhur yang menekankan pentingnya menjaga kehormatan antarwarga demi stabilitas tatanan kedaulatan.
Yang menarik, mereka juga memiliki dialek atau variasi bahasa yang lebih kuno, menyimpan kosakata tua yang jarang ditemukan pada penutur bahasa Cia-Cia atau Wolio modern. Fenomena linguistik ini menjadikan masyarakat Sempa-Sempa Pulau Buton bukan sekadar kelompok sosial biasa. Mereka adalah laboratorium hidup bagi para peneliti sejarah dan antropologi untuk memahami bagaimana identitas sebuah komunitas dapat bertahan dengan gagah di tengah arus modernisasi yang perlahan mulai menggerus tepian Pulau Buton.(*)