HOME STORY
Share
Mogai Gito, Mata Pencaharian Suku Nias di Desa Bawomataluo

WISATA LIBURAN - Di balik ketenaran tradisi lompat batu yang mendunia, Desa Bawomataluo di Nias Selatan menyimpan denyut ekonomi yang jauh dari gemerlap namun tak kalah penting. Di sanalah mata pencaharian Suku Nias yang paling fundamental berlangsung setiap pagi, yaitu melalui tradisi Mogai Gito,istilah lokal untuk menyadap karet. 

Sebelum matahari mencapai puncaknya, warga sudah berdesakan menembus rintihan hutan untuk menggores batang-batang pohon karet. "Proses penyadapan dilakukan dengan teknik sayatan presisi dari kanan atas ke kiri bawah," demikian gambaran seorang warga setempat, menciptakan jalur tunggal bagi getah putih untuk menetes perlahan menuju sole, wadah tradisional dari batok kelapa. Di situlah kearifan lokal bersatu, memanfaatkan material alam secara utuh tanpa pemborosan.

Namun mata pencaharian Suku Nias sebagai penyadap karet bukanlah perkara ringan. Rutinitas ini harus terhenti ketika musim hujan tiba, karena air dapat merusak kualitas getah yang dikumpulkan. Medan hutan yang berat menuntut ketahanan fisik ekstra, yang terkadang diobati secara spontan dengan menikmati segarnya batang tebu hutan di sepanjang jalan pulang. Getah karet yang telah beku kemudian dijual ke pasar terdekat. 

Lebih dari sekadar mencari nafkah, tradisi ini menjelma menjadi simbol ketahanan pangan sekaligus bukti hidup bahwa identitas Suku Nias tak hanya terpahat pada batu-batu megalitikum. Ia juga mengalir subur di setiap tetes getah karet yang menghidupi desa mereka dari generasi ke generasi.(*)

The following video is courtesy of TRANS TV