

WISATA LIBURAN - Wajah baru Taman Satwa Taru Jurug yang kini bertransformasi menjadi Solo Safari menghadirkan napas segar bagi pariwisata ruang terbuka di Kota Bengawan. Berdiri di atas lahan seluas 14 hektar yang hanya berjarak beberapa menit dari pusat kota, kawasan ini mengusung konsep Walking Safari modern tempat pengunjung dapat berjalan kaki mengitari zona habitat tanpa sekat jeruji besi yang masif. Lanskap pameran satwa dibuat menyerupai rona alam aslinya, memelopori interaksi jarak dekat mulai dari pertunjukan edukasi satwa hingga kesempatan menyapa langsung satwa endemik Nusantara serta koleksi mancanegara.
Daya pikat destinasi ini semakin lengkap lewat wahana adrenalin Savana Zipline, sebuah kereta gantung sepanjang 100 meter yang meluncur tepat di atas zona melintasnya satwa-satwa khas Afrika. Usai menjajal aktivitas luar ruangan, pengunjung dapat beristirahat di Makunde Bistro untuk menikmati sajian kuliner khas seperti nasi kebuli hingga rawon sumsum. Pengalaman bersantap di bistro ini terasa kian memikat karena dibatasi dinding kaca tebal berdampingan langsung dengan area lalu lalang singa, memberikan sensasi makan siang tak terlupakan di dekat sang raja hutan.
Solo Safari tidak hanya menawarkan rekreasi, tetapi juga pengalaman edukatif yang mempererat hubungan antara manusia dan satwa di tengah suasana yang nyaman dan modern. Dengan konsep yang mengutamakan kesejahteraan satwa dan kenyamanan pengunjung, destinasi ini menjadi pilihan ideal bagi wisatawan keluarga yang ingin menikmati liburan bermakna di Solo. Transformasi Taman Satwa Taru Jurug menjadi Solo Safari merupakan bentuk pariwisata berbasis konservasi yang berjalan beriringan dengan edukasi dan hiburan yang berkualitas.(*)