HOME STORY
Share
Ada Filosofi Mendalam di Balik Permainan Tradisional Sangga Alu

WISATA LIBURAN – Di pelataran kampung adat Ende, Nusa Tenggara Timur, suara ketukan bambu yang saling beradu sering kali mengisi keheningan sore setelah musim panen. Permainan tradisional Sangga Alu, yang menggunakan bilah bambu atau alu sebagai penanda ritme, menuntut ketepatan melompat di antara jepitan kayu yang bergerak cepat.

Empat hingga delapan pemegang batang bambu duduk berhadapan, memegang ujung-ujung bambu secara sejajar, lalu menghentakkannya mengikuti tempo yang semakin cepat. Sementara itu, seorang atau beberapa penari harus benar-benar fokus dan gesit agar tidak terjepit di antara batang yang bergerak. Atraksi ini bukan hanya sekadar permainan fisik, tetapi juga merupakan bentuk syukur masyarakat yang lahir dari tradisi pascapanen di Ende-Lio, di mana setiap gerakan mengandung doa dan harapan untuk hasil panen yang melimpah.

Nilai filosofis dari permainan tradisional Sangga Alu terletak pada rasa saling percaya dan konsentrasi kolektif; ketidakselarasan sekecil apapun dari para pemegang bambu bisa menggoyahkan ritme dan membahayakan sang pelompat. Dalam budaya lokal, ketukan kayu yang harmonis mencerminkan pentingnya gotong royong dan keselarasan hidup antarwarga kampung. Meskipun modernisasi semakin mengubah kehidupan generasi muda di Flores, Sangga Alu tetap dilestarikan melalui festival budaya tahunan, pertunjukan seni daerah, hingga kegiatan muatan lokal di sekolah-sekolah.

Menyaksikan keahlian para pemainnya secara langsung memberikan perspektif autentik bahwa kearifan lokal Ende tidak hanya tersimpan di museum, tetapi juga terus hidup di ruang-ruang publik. Pelestarian permainan tradisional Sangga Alu ini menjadi bukti nyata bahwa warisan leluhur dapat bertahan di tengah gempuran zaman, asalkan ada semangat kolektif untuk menjaganya tetap hidup dan mengakar kuat di hati masyarakat.(*)

The following video is courtesy of TRANS TV