

WISATA LIBURAN - Menjelajahi dataran tinggi Garut bukan hanya tentang menikmati pemandian air panas atau mengagumi keindahan gunung apinya yang megah. Di balik kesibukan pariwisata modern, ada sebuah harmoni masa lalu yang terjaga dengan baik di Desa Cangkuang, Kecamatan Leles, yang dikenal dengan nama Candi Cangkuang Garut. Sebagai satu-satunya candi Hindu yang ada di tanah Pasundan, situs yang berasal dari abad ke-8 ini menawarkan pengalaman visual dan spiritual yang unik sejak langkah pertama.
Untuk sampai ke Candi Cangkuang Garut, para pengunjung harus menaiki rakit bambu tradisional dan menyeberangi danau yang tenang, seolah-olah melakukan ritual transisi dari dunia modern ke lorong waktu sejarah. Candi yang konon dipersembahkan untuk Dewa Siwa ini dikelilingi oleh pohon cangkuang dan tidak berdiri sendiri. Hanya beberapa langkah dari candi, terdapat makam keramat Embah Dalem Arief Muhammad, seorang tokoh penyebar Islam, yang menjadi simbol toleransi beragama yang telah berakar di tempat ini selama berabad-abad.
Daya tarik sejati Candi Cangkuang Garut terletak pada kearifan lokal masyarakat Kampung Adat Pulo yang terletak tepat di samping candi. Keturunan Embah Dalem Arief Muhammad hidup dengan memegang teguh hukum adat yang unik, terdiri dari enam rumah dan satu mushola, dihuni oleh enam kepala keluarga dengan sistem waris yang jatuh kepada anak perempuan. Kehidupan urban Garut seolah terhenti di lingkaran Kampung Pulo.
Larangan adat seperti tidak memelihara hewan berkaki empat besar atau memukul gong pada hari-hari tertentu masih dihormati oleh warga setempat. Mengunjungi Candi Cangkuang Garut dan Kampung Pulo bukan sekadar perjalanan sejarah, melainkan juga sebuah refleksi tentang bagaimana spiritualitas Hindu, tradisi Islam, dan keteguhan adat Sunda dapat hidup berdampingan dengan harmonis dalam satu lanskap kecil yang sederhana.(*)