

WISATA LIBURAN - Menjelajahi dataran tinggi Flores di Kabupaten Ende bukan hanya tentang terpesona oleh keindahan tiga warna Danau Kelimutu yang menakjubkan. Lebih dari itu, perjalanan ke sana adalah tentang merasakan ritme komunal yang sakral di perkampungan adatnya. Bagi Suku Lio, salah satu kelompok etnis tertua di Nusa Tenggara Timur, kehangatan dalam menyambut tamu atau merayakan hasil panen terwujud secara magis dalam hentakan tarian Nggolamba.
Tari tradisional NTT yang satu ini bukan sekadar gerakan yang indah untuk dilihat. Ia adalah sebuah ritus sosial yang sangat kuat, mampu mengumpulkan puluhan, bahkan ratusan warga desa dalam satu lingkaran besar yang kompak. Di bawah komando tetua adat, para penari pria dan wanita yang mengenakan kain tenun ikat lawo dan luka khas Lio bergerak dengan penuh ritme. Mereka menyatukan langkah kaki di atas tanah pelataran mbaru adat (rumah adat) yang berdebu. Hasilnya, terciptalah suasana penyambutan yang megah, sekaligus sarat dengan nuansa spiritualitas leluhur yang mendalam.
Dinamika estetis dari tarian Nggolamba ini terletak pada kesederhanaan instrumen yang justru melahirkan resonansi emosional yang mendalam bagi siapa pun yang menyaksikannya. Tanpa aransemen musik modern yang rumit, tari tradisional NTT ini digerakkan oleh harmoni pukulan gong dan gendang tradisional yang khas. Sesekali, irama ini ditimpali oleh syair-syair adat berupa doa dan puji-pujian yang dilantunkan secara bersahut-sahutan antara penari pria dan wanita. Jejak-jejak peluh yang berkilau di dahi para penari dan senyum tulus yang terkembang sepanjang prosesi menegaskan bahwa tarian Nggolamba lahir dari rahim ketulusan komunal, bukan dari panggung buatan.
Melalui ketukan kaki yang seirama dan lambaian tangan yang lembut namun tegas, Suku Lio seolah ingin menunjukkan kepada dunia luar bahwa menghormati tamu adalah bagian terdekat dari struktur iman adat mereka. Tarian Nggolamba berhasil mengubah sebuah seremoni penyambutan sederhana menjadi sebuah selebrasi kemanusiaan yang intim, organik, dan tak lekang oleh zaman. Tari tradisional NTT ini adalah warisan budaya yang wajib dilestarikan.(*)